PASUNG JIWA : Apa itu kebebasan?


Pasung Jiwa

By. Okky Madasari
Published by Gramedia Pustaka Utama


Namaku Sasa, umm.. dulu Sasana. Pernah jadi mahasiswa selama satu tahun. Dulunya anak dari seorang dokter bedah dan pengacara ternama, tapi entah sekarang, mungkin aku sudah tidak dianggap anak lagi. Pekerjaan.. penyanyi dangdut keliling (baca : ngamen). Kalau Inul punya goyangan ngebor, akupun punya goyangan sendiri, namanya goyang gandrung.

Awal mula aku menyukai musik dangdut itu saat aku menonton pertunjukan dangdut di desa dekat kompleks tempat tinggalku. Saat itu aku baru akan menginjak SMP. Musik dangdut sangat membiusku, ditambah goyangan biduanitanya yang secara tak sadar menyeretku untuk ikut bergoyang. Sebelumnya, aku tak pernah tahu ada musik sedahsyat itu. Hari-hariku dahulu hanya dipenuhi oleh denting suara piano. Aku sudah menjadi seorang pianis di usiaku yang terbilang muda. Bethoven, Chopin dkk semua kulahap dengan mudahnya. Tapi aku tak pernah menikmatinya. Ayah ibuku bisa marah besar kalau tahu aku lebih menyukai dangdut dibandingkan musik klasik. Buat mereka dangdut itu kampungan.

Awal perjalananku menjadi penyanyi dangdut dan menggunakan nama panggung "Sasa" dimulai ketika aku kuliah. Hanya bertahan selama satu tahun, aku yang kuliah jauh dari ayah ibu akhirnya menyerah dan mulai mengikuti panggilan jiwaku. Di saat itu aku bertemu Cak Jek, dari dialah nama Sasa ini bermula.. dan karena dialah hidupku mulai menemukan jalannya. Hingga suatu waktu takdir menyeretku hingga ke dalam penjara dan rumah sakit jiwa.

***


Akhirnyaa bisa ikut postbar BBI lagi \(^.^)/. Disamping aku memang lagi sedikit senggang, tema kali ini juga merupakan favoritku. Pada postbar kali ini, aku akan mereview buku dari salah satu penulis favoritku. 

Buku ini sudah sedikit membuat heboh saat pertama diluncurkan, tak lain dan tak bukan adalah karena penarikannya kembali. Katanya alasannya sih ada perbaikan cover buku. Err.. walau aku sebenernya kurang percaya dengan alasan tersebut.. soalnya ternyata cover barunya hanya penghilangan garis putih di sekeliling cover. Emang segitu pentingnya ya tuh garis putih dihilangkan sampai harus menarik semua buku yang sudah beredar? Dan untungnya aku mendapatkan buku ini dengan cover yg pertama kali diluncurkan. Tapi jadi penasaran ingin membandingkan isinya, adakah bagian yang ikut dihilangkan seiring dengan pergantian cover? 

Inti dari buku ini sebenernya adalah pencarian identitas diri. Namun, kata "pencarian identitas diri" yang biasanya terdengar alay karena biasa menempel pada sosok remaja-remaja labil jadi serius sekali di buku ini. Hidupku yang memang lurus-lurus aja membuat aku secara tak sadar melongo saat membacanya dan sibuk bergumam duh.. segitunya banget ya..

Seperti buku-bukunya Okky yang lain, buku ini pun sarat dengan kritik sosial. Menyindir dan langsung kena sasaran. Dimulai dari pemaksaan kehendak orang tua terhadap anak, bullying di sekolah, isu-isu LGBT, tindakan sewenang-wenang pengusaha terhadap buruh, sampai sikap para tentara dan polisi di negri ini yang tidak memihak pada rakyat, dan juga sindiran terhadap ormas-ormas yang hobby menjual agama.. yah.. kalian pasti tahulah siapa yang dimaksud dalam ormas ini kalau sudah membaca bukunya. Ormas piaraannya polisi. Ormas yang bertakbir ketika membunuh orang lain, Okky menyindirnya dengan merefresh ingatan kita tentang penyerangan berdarah terhadap ahmadiyah di Bogor. Ormas gila, sinting dan biadab. 

Tapi sayangnya, sekian banyak isu tersebut membuat buku ini terasa terlalu penuh. Inti dari pasung jiwa nya dapet sih, tapi dengan memasukkan peristiwa yang terinspirasi dari Marsinah membuatku bingung dengan korelasi judul buku ini. Apakah Okky berusaha memberi tahu kalau Marsinah pun sudah membebaskan jiwanya dengan berani menuntut apa yang menjadi hak nya? Tapi kalau seperti itu, kata "pasung jiwa" dalam buku ini jadi bermakna ganda. Jadi sedikit membingungkan. Sayang aku tak mengikuti semua diskusi-diskusi yang pernah diadakan untuk membahas buku ini. 

Selain efek kepenuhan, aku juga tidak terlalu suka dengan adanya adegan pelecehan seksual dalam buku ini :'(. Ngilu banget bacanya dan ingin muntah. Karena dua hal inilah yang membuatku menurunkan rate buku ini dari lima menjadi hanya tiga bintang saja. Padahal ceritanya sempat membuat aku menarik napas prihatin saat membacanya. Apalagi ketika peristiwa yang berkaitan dengan ibunda dari Cak Jek dan kisah pertemuan kembali Cak Jek dengan Sasa setelah sekian tahun berpisah. 

Tapi buku ini tetap menunjukkan kepiawaian Okky dalam menulis dan mengolah masalah di dalamnya. Tetep harus dibaca..!

6 comments

  1. Belum pernah baca karya Okky Mada sari mbak, kayaknya buku yang ini menarik

    ReplyDelete
  2. Iyaa, aku juga ngerasa buku ini padet banget tema temanyaaa

    ReplyDelete
  3. Jadi Sasana itu tadinya cowok trus jadi cewek, gitu? #bingung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak Lila.. Sasana jadi Sasa (transgender)

      Delete
  4. kadang aku merasa lag baca buku bhs Indonesia itu karena gak ada gender di kata ganti mereka, scroll, scroll lagi, ada kata mahasiswa, ah masukin list tbr aja nih xD

    entah kenapa aku jadi keingat buku ttg pengidap scizo yang pernah aku baca di SMA klo baca review ini.

    ReplyDelete
  5. menarik sebenernya ya... tapi aku juga suka ngilu lun kalau ada adegan yang terlalu menyedihkan kayak pelecehan seksual.. dan iya, penasaran sama revisinya. apa yg direvisi ya?

    ReplyDelete